Dalam penulisan artikel ilmiah, kualitas penelitian bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah sebuah naskah layak diterbitkan dalam jurnal akademik. Ketepatan sitasi, konsistensi format referensi, dan kredibilitas sumber juga menjadi bagian penting dari proses penilaian editorial. Penulis yang memiliki hasil penelitian menarik sekalipun tetap perlu memastikan bahwa seluruh sumber yang digunakan telah dicantumkan secara benar dan dapat diverifikasi.
Salah satu persoalan yang sering muncul ketika penulis menyiapkan artikel untuk publikasi adalah kesalahan dalam menerapkan gaya referensi, khususnya American Psychological Association (APA) dan Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE). Kedua gaya tersebut memiliki aturan berbeda dalam penulisan sitasi di dalam teks, penyusunan daftar pustaka, penggunaan nomor referensi, hingga pencantuman informasi publikasi. Kesalahan yang terlihat kecil, seperti tahun terbit yang tidak cocok atau DOI yang keliru, dapat menyulitkan editor dan reviewer memeriksa sumber yang mendukung penelitian.
Perlu dipahami bahwa kesalahan format referensi tidak selalu menjadi alasan tunggal penolakan naskah. Sebagian jurnal meminta penulis melakukan perbaikan teknis sebelum naskah diproses lebih lanjut, sedangkan persoalan yang lebih serius, seperti sumber yang tidak dapat diverifikasi, kutipan yang tidak sesuai dengan sumber asli, atau indikasi pelanggaran integritas akademik, dapat menimbulkan masalah yang jauh lebih besar. Keputusan akhir tetap bergantung pada kebijakan jurnal, kualitas penelitian, dan tingkat keseriusan kesalahan yang ditemukan.
Oleh karena itu, memahami perbedaan antara APA dan IEEE merupakan langkah penting bagi mahasiswa, dosen, peneliti, maupun penulis yang sedang mempersiapkan publikasi ilmiah. Artikel ini membahas enam kesalahan format referensi yang perlu dihindari, mulai dari ketidaksesuaian sitasi dan daftar pustaka hingga penggunaan sumber yang tidak kredibel. Setiap pembahasan dilengkapi pengertian, contoh, dampak, dan cara memperbaikinya agar lebih mudah diterapkan dalam proses penyuntingan naskah jurnal.
Table of Contents
Toggle1. Ketidaksesuaian Antara In-Text Citation dengan Daftar Pustaka

Kesalahan pertama yang perlu diperhatikan adalah ketidaksesuaian antara sitasi di dalam teks (in-text citation) dan daftar pustaka (reference list). In-text citation merupakan keterangan singkat di dalam paragraf yang menunjukkan asal suatu informasi, gagasan, teori, atau hasil penelitian. Sementara itu, daftar pustaka berisi informasi bibliografis yang lebih lengkap agar pembaca dapat menemukan sumber aslinya.
Dalam praktik penulisan akademik, kedua bagian ini harus saling terhubung. Apabila penulis menyebut suatu penelitian di dalam artikel, sumber tersebut pada umumnya harus dicantumkan dalam daftar pustaka. Sebaliknya, setiap entri daftar pustaka harus memiliki fungsi yang jelas dan memenuhi ketentuan gaya sitasi yang digunakan. Prinsip ini dijelaskan dalam panduan APA dan Purdue Online Writing Lab (OWL).
Apa yang dimaksud dengan ketidaksesuaian sitasi?
Ketidaksesuaian sitasi adalah keadaan ketika informasi penulis, tahun terbit, nomor referensi, atau identitas sumber di dalam teks tidak cocok dengan informasi pada daftar pustaka. Kesalahan ini dapat terjadi karena penulis mengubah paragraf, mengganti sumber, atau menghapus referensi tanpa memeriksa kembali seluruh naskah.
Contohnya, penulis menyatakan bahwa suatu metode terbukti meningkatkan efektivitas pembelajaran dan mencantumkan sitasi (Rahman, 2022). Namun, daftar pustaka hanya memuat penelitian Rahman yang diterbitkan pada 2020. Ketidaksesuaian tersebut membuat pembaca kesulitan memastikan penelitian mana yang sebenarnya digunakan sebagai dasar pernyataan.
Pada gaya IEEE, persoalannya dapat muncul ketika sitasi [4] merujuk pada penelitian yang berbeda dari entri nomor 4 dalam daftar referensi. Nomor sitasi yang salah dapat membuat pembaca menghubungkan suatu klaim dengan penelitian yang tidak relevan, sehingga pemeriksaan bukti menjadi lebih sulit.
Mengapa kesalahan ini dapat memengaruhi keputusan editor?
Editor dan reviewer perlu menilai apakah klaim dalam artikel didukung oleh bukti yang sesuai. Apabila identitas sumber tidak konsisten, mereka harus menghabiskan waktu tambahan untuk melacak referensi dan memeriksa apakah sumber tersebut benar-benar mendukung pernyataan penulis.
Kesalahan semacam ini juga dapat mengurangi kepercayaan terhadap ketelitian penulis, khususnya ketika ditemukan berulang kali. Namun, satu kesalahan administratif tidak otomatis menyebabkan penolakan. Jurnal dapat meminta revisi teknis, sedangkan ketidaksesuaian yang mengarah pada kutipan palsu, salah atribusi, atau masalah integritas akademik dapat ditangani secara lebih serius sesuai kebijakan penerbit.
Cara memperbaikinya
- Cocokkan setiap sitasi dengan daftar pustaka. Periksa nama penulis, tahun, judul, dan identitas publikasi satu per satu.
- Pastikan semua sumber dapat ditemukan. Gunakan DOI, laman penerbit, katalog perpustakaan, atau repositori akademik yang relevan.
- Periksa ulang setelah revisi. Perubahan paragraf, penghapusan kutipan, dan penambahan sumber dapat menyebabkan ketidaksesuaian baru.
- Gunakan pengelola referensi. Aplikasi seperti Zotero atau Mendeley dapat membantu menyinkronkan sitasi dan daftar pustaka, tetapi hasilnya tetap perlu diperiksa secara manual.
Intinya, setiap sitasi harus dapat ditelusuri ke sumber yang benar. Pemeriksaan silang ini merupakan langkah dasar sebelum naskah dikirimkan kepada editor.
2. Pencampuran Gaya Sitasi (Mixing APA Style dengan IEEE Style)
Kesalahan kedua adalah mencampurkan dua gaya referensi dalam satu naskah tanpa mengikuti ketentuan jurnal. APA dan IEEE sama-sama digunakan dalam publikasi ilmiah, tetapi keduanya memiliki sistem pengutipan yang berbeda. Menggabungkan unsur dari kedua gaya secara sembarangan dapat menghasilkan format yang tidak konsisten.
APA edisi ketujuh menggunakan sistem penulis–tahun (author–date), sedangkan IEEE menggunakan sistem penomoran dalam tanda kurung siku yang mengacu pada daftar referensi bernomor. Perbedaan ini bukan hanya soal tampilan, tetapi juga berkaitan dengan cara pembaca mengidentifikasi sumber.
Perbedaan mendasar antara APA dan IEEE
APA Style edisi ke-7
Contoh sitasi dalam teks
(Pratama, 2024)
Contoh entri daftar pustaka
Pratama, A. (2024). Pengaruh teknologi terhadap pembelajaran. Jurnal Pendidikan, 10(2), 45–58.
IEEE Style
Contoh sitasi dalam teks
Contoh entri daftar referensi
A. Pratama, “Pengaruh teknologi terhadap pembelajaran,” Jurnal Pendidikan, vol. 10, no. 2, pp. 45–58, 2024.
Contoh ilustratif untuk menunjukkan perbedaan format, bukan referensi publikasi nyata.
Pada APA, daftar referensi umumnya disusun secara alfabetis berdasarkan nama belakang penulis pertama. Pada IEEE, referensi disusun berdasarkan urutan kemunculan pertama di dalam teks. Karena sistem dasarnya berbeda, penulis tidak boleh menggunakan nomor IEEE di dalam teks lalu menyusun daftar pustaka dengan aturan APA tanpa alasan yang sesuai dengan pedoman jurnal.
Contoh kesalahan pencampuran gaya
Misalnya, artikel menggunakan sitasi (Sari, 2023) pada sebagian paragraf, tetapi menggunakan [2] pada paragraf lain. Daftar pustakanya kemudian disusun berdasarkan abjad, sementara beberapa entri memiliki nomor referensi seperti format IEEE.
Jika jurnal meminta APA, format tersebut tidak konsisten karena penulis menggunakan nomor sitasi yang bukan bagian dari sistem standar APA. Sebaliknya, jika jurnal meminta IEEE, penggunaan nama penulis dan tahun sebagai sitasi utama juga tidak mengikuti pola IEEE.
Perlu dibedakan antara kesalahan gaya sitasi dan kesalahan substansi. Pencampuran format biasanya merupakan masalah teknis, tetapi jika menyebabkan sumber tidak bisa diidentifikasi atau membuat atribusi keliru, dampaknya dapat menjadi lebih serius.
Cara memperbaikinya
- Periksa pedoman penulis (author guidelines). Jangan menentukan gaya hanya berdasarkan bidang ilmu atau kebiasaan jurnal lain.
- Pilih satu gaya sesuai ketentuan jurnal. Gunakan APA atau IEEE secara konsisten, kecuali jurnal menetapkan format khusus.
- Atur gaya pada aplikasi pengelola referensi. Pilih format yang benar sebelum memasukkan sitasi ke dalam dokumen.
- Periksa kembali hasil ekspor. Pengelola referensi dapat menghasilkan format yang kurang tepat jika metadata sumber tidak lengkap atau gaya yang dipilih tidak sesuai.
Hal penting lainnya adalah jangan menganggap APA selalu untuk ilmu sosial dan IEEE selalu untuk teknik tanpa memeriksa jurnal tujuan. Penggunaan gaya tertentu memang lazim pada bidang tertentu, tetapi pedoman resmi jurnal tetap menjadi acuan utama.
3. Kesalahan Penulisan DOI (Digital Object Identifier) dan URL Referensi

Kesalahan ketiga berkaitan dengan DOI dan URL yang tidak valid, salah ketik, atau tidak mengarah ke sumber yang dikutip. DOI (Digital Object Identifier) adalah pengenal digital yang digunakan untuk mengidentifikasi objek, termasuk banyak artikel ilmiah, secara persisten. URL merupakan alamat yang digunakan untuk mengakses suatu halaman atau sumber di internet.
Keduanya sering terlihat serupa karena DOI artikel dapat ditampilkan dalam bentuk tautan. Namun, DOI bukan sekadar alamat situs biasa. DOI yang benar dapat membantu pembaca menemukan publikasi meskipun lokasi halaman artikel pada situs penerbit berubah.
Panduan APA edisi ketujuh menganjurkan penulisan DOI dalam bentuk tautan, misalnya https://doi.org/10.xxxx/xxxxx, jika DOI tersedia. Panduan tersebut juga membedakan penggunaan DOI dan URL berdasarkan jenis sumber yang dirujuk.
Kesalahan DOI dan URL yang sering terjadi
Pertama, DOI ditulis tidak lengkap. Penulis mungkin hanya menuliskan kode DOI tanpa format tautan yang sesuai dengan pedoman jurnal. Pada APA edisi ketujuh, bentuk tautan https://doi.org/... merupakan format yang digunakan untuk DOI.
Kedua, DOI mengarah ke artikel yang berbeda. Hal ini dapat terjadi karena penulis menyalin DOI dari artikel lain, menggunakan metadata yang keliru, atau tidak memeriksa sumber aslinya.
Ketiga, URL rusak atau tidak lengkap. Tautan dapat kehilangan sebagian karakter, mengandung spasi yang tidak semestinya, atau mengarah ke halaman pencarian umum, bukan halaman sumber yang sebenarnya.
Keempat, DOI dan metadata tidak cocok. Judul, penulis, tahun, atau nama jurnal yang tercantum dalam daftar pustaka berbeda dari informasi yang ditampilkan oleh DOI tersebut.
Contoh format DOI yang benar
Format tautan DOI
Contoh pola penulisan; kode tersebut bukan DOI artikel tertentu yang telah diverifikasi.
Format yang perlu diperiksa
doi:10.xxxx/xxxxx
Bentuk ini mungkin ditemukan dalam referensi lama atau format lain, tetapi tidak mengikuti bentuk tautan DOI yang digunakan APA edisi ketujuh.
Mengapa kesalahan DOI dianggap penting?
DOI dan URL yang salah membuat pembaca kesulitan memverifikasi sumber. Reviewer yang ingin memastikan bahwa suatu metode, teori, atau hasil penelitian benar-benar didukung oleh publikasi tertentu mungkin harus mencari sumber secara manual.
Masalah ini menjadi lebih serius ketika DOI yang salah ternyata mengarah ke artikel lain dengan topik berbeda. Dalam situasi tersebut, persoalannya bukan lagi sebatas format, melainkan ketepatan atribusi dan keandalan bukti ilmiah.
Namun, DOI tidak selalu tersedia untuk semua jenis publikasi. Buku lama, dokumen pemerintah, laporan institusi, atau sumber tertentu mungkin tidak memiliki DOI. Jangan membuat DOI sendiri hanya agar daftar pustaka terlihat lengkap. Gunakan URL yang sah jika sesuai dengan jenis sumber dan pedoman jurnal.
Cara memeriksa DOI dan URL
- Salin DOI dari laman penerbit atau metadata publikasi yang tepercaya.
- Buka tautan DOI untuk memastikan bahwa tautan mengarah ke publikasi yang dimaksud.
- Cocokkan nama penulis, judul, tahun, nama jurnal, volume, nomor, dan halaman atau nomor artikel.
- Jika DOI tidak tersedia, periksa apakah URL diperlukan sesuai jenis sumber dan gaya referensi yang digunakan.
- Hindari mengganti DOI dengan tautan mesin pencari atau halaman beranda jurnal jika tautan yang lebih spesifik tersedia.
Prinsip utamanya adalah setiap tautan harus membantu pembaca menemukan sumber yang benar. Jangan sekadar memastikan bahwa tautan dapat diklik; pastikan pula bahwa identitas publikasinya sesuai.
4. Format Kapitalisasi Judul, Nama Jurnal, dan Nama Penulis yang Salah
Kesalahan keempat adalah ketidaktepatan kapitalisasi, penggunaan huruf miring, dan penulisan nama penulis. Kesalahan ini kerap dianggap sepele karena tidak selalu mengubah isi penelitian. Padahal, format bibliografi yang konsisten membantu pembaca membedakan judul artikel, nama jurnal, nama buku, dan informasi penerbitan.
Setiap gaya referensi mempunyai aturan tersendiri. Oleh karena itu, penulis tidak seharusnya menyalin tampilan judul dari halaman web secara langsung tanpa menyesuaikannya dengan pedoman yang berlaku. APA dan IEEE, misalnya, mempunyai ketentuan kapitalisasi yang berbeda untuk judul artikel dan judul publikasi.
Perbedaan kapitalisasi pada APA dan IEEE
Pada APA edisi ketujuh, judul artikel jurnal umumnya menggunakan sentence case, yaitu huruf kapital pada kata pertama judul, kata pertama setelah titik dua atau tanda pisah yang relevan, serta nama diri. Sementara itu, nama jurnal menggunakan title case, dengan huruf kapital pada kata-kata utama, dan ditulis miring.
Sebaliknya, IEEE menggunakan aturan editorialnya sendiri, termasuk sentence case untuk judul artikel dan title case untuk judul publikasi seperti buku dan jurnal, dengan memperhatikan ketentuan khusus penerbitan IEEE.
Contoh ilustratif berikut menunjukkan perbedaan penulisannya.
| Elemen | Contoh APA edisi ke-7 | Contoh IEEE |
|---|---|---|
| Judul artikel | Pengaruh teknologi terhadap pembelajaran | “Pengaruh teknologi terhadap pembelajaran,” |
| Nama jurnal | Jurnal Pendidikan Teknologi | Jurnal Pendidikan Teknologi |
| Nama penulis | Pratama, A. B. | A. B. Pratama |
| Sitasi dalam teks | (Pratama, 2024) |
Contoh tersebut hanya menunjukkan pola umum. Tanda baca, penggunaan tanda kutip, penempatan tahun, serta informasi volume dan halaman tetap harus mengikuti pedoman spesifik yang berlaku.
Kesalahan dalam menuliskan nama penulis
Kesalahan lain adalah menukar nama depan dan nama belakang, menghilangkan inisial, atau mengubah urutan penulis dari publikasi aslinya. Dalam referensi APA, nama penulis umumnya ditulis dengan nama keluarga diikuti inisial. Pada IEEE, inisial nama depan biasanya ditempatkan sebelum nama keluarga.
Sebagai contoh, jika nama penulis pada publikasi tercantum sebagai Andi Budi Pratama, referensi APA umumnya menuliskannya sebagai Pratama, A. B., sedangkan format IEEE menjadi A. B. Pratama.
Nama dan urutan penulis harus didasarkan pada publikasi asli, bukan perkiraan penulis artikel yang sedang disusun. Kesalahan nama dapat menyulitkan proses penelusuran, mengganggu atribusi karya, dan membuat informasi bibliografis tidak akurat.
Cara memperbaikinya
- Periksa judul artikel dan nama jurnal langsung dari halaman penerbit atau naskah publikasi.
- Bedakan aturan kapitalisasi judul artikel dari aturan kapitalisasi nama jurnal.
- Pastikan penggunaan huruf miring dan tanda baca sesuai dengan gaya yang dipilih.
- Cocokkan nama serta urutan penulis dengan sumber asli.
- Jangan mengubah ejaan nama jurnal yang memang menggunakan kapitalisasi khusus sebagai bagian dari identitas resminya.
Panduan APA dan IEEE menyediakan contoh referensi untuk berbagai jenis publikasi yang dapat digunakan sebagai acuan.
Pemeriksaan format sebaiknya dilakukan setelah seluruh metadata sumber dipastikan benar. Memperbaiki huruf kapital tidak akan menyelesaikan masalah jika nama penulis atau judul yang digunakan sejak awal ternyata keliru.
5. Penggunaan Sumber Kuno atau Tidak Kredibel (Situs Non-Akademik)

Kesalahan kelima adalah menggunakan sumber yang sudah tidak relevan, tidak dapat diverifikasi, atau tidak memiliki kredibilitas yang memadai untuk mendukung klaim ilmiah. Referensi tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap tulisan, tetapi juga menjadi bukti bahwa argumentasi penulis dibangun berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam publikasi akademik, kualitas referensi dinilai berdasarkan relevansi, ketepatan, kredibilitas, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan penelitian. Elsevier, misalnya, menekankan pentingnya penggunaan literatur yang relevan, mutakhir, dan terverifikasi untuk mendukung klaim dalam artikel ilmiah.
Apa yang dimaksud dengan sumber kuno dan tidak kredibel?
Sumber kuno adalah sumber yang sudah lama diterbitkan jika dibandingkan dengan perkembangan pengetahuan pada topik yang sedang dibahas. Namun, istilah ini tidak berarti semua referensi lama harus dihindari. Buku teori klasik, penelitian dasar, dan publikasi yang menjadi fondasi suatu bidang tetap dapat digunakan selama relevan dengan tujuan penelitian.
Sebaliknya, sumber tidak kredibel adalah sumber yang kualitas, asal-usul, metode penyusunan, atau kebenaran informasinya tidak dapat dipastikan secara memadai. Contohnya adalah artikel anonim tanpa bukti pendukung, situs yang menyebarkan klaim tanpa sumber, atau tulisan promosi yang digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menyimpulkan efektivitas suatu metode ilmiah.
Situs non-akademik juga tidak selalu buruk. Situs resmi pemerintah, dokumentasi standar teknis, laporan lembaga internasional, dan data statistik resmi dapat menjadi sumber yang sangat berguna. Yang harus diperhatikan adalah apakah sumber tersebut tepat untuk jenis klaim yang sedang dibuktikan.
Mengapa referensi yang tidak tepat dapat menjadi masalah?
Bayangkan seorang peneliti menulis artikel mengenai perkembangan kecerdasan buatan pada 2026, tetapi sebagian besar argumennya hanya didasarkan pada artikel blog yang diterbitkan bertahun-tahun sebelumnya. Sumber tersebut mungkin masih berguna untuk menjelaskan sejarah teknologi, tetapi belum tentu memadai untuk menggambarkan kemampuan, risiko, atau perkembangan terbaru.
Sebaliknya, penelitian yang membahas teori dasar yang telah mapan tidak selalu membutuhkan referensi terbaru untuk setiap konsep. Dalam konteks tersebut, referensi klasik yang relevan dapat lebih tepat daripada sumber baru yang kualitasnya belum teruji.
Masalah lain muncul ketika penulis menggunakan situs populer untuk membuktikan klaim medis, statistik, atau hubungan sebab-akibat tanpa dukungan penelitian yang sesuai. Reviewer dapat mempertanyakan dasar ilmiah argumen tersebut dan meminta penulis memperkuat tinjauan pustakanya.
Cara menilai kredibilitas sumber
1. Artikel jurnal ilmiah
Periksa apakah artikel diterbitkan oleh jurnal yang jelas, memiliki informasi penulis dan metode yang memadai, serta melalui proses penelaahan sejawat jika relevan. Status jurnal saja tidak menjamin bahwa setiap klaim di dalamnya benar.
2. Dokumen resmi dan laporan institusi
Data pemerintah, standar teknis, dan laporan lembaga yang berwenang dapat digunakan untuk mendukung informasi kebijakan, statistik, atau ketentuan resmi. Periksa tanggal, metodologi, dan ruang lingkup datanya.
3. Sumber internet umum
Blog, forum, dan artikel populer dapat membantu memahami konteks atau menemukan sumber awal. Namun, klaim penting dalam penelitian sebaiknya ditelusuri ke publikasi asli yang dapat diverifikasi.
Apakah semua referensi harus terbit dalam lima tahun terakhir?
Tidak. Batas usia referensi harus disesuaikan dengan bidang ilmu, tujuan penelitian, dan ketentuan jurnal tujuan. Beberapa jurnal memang meminta literatur terbaru untuk menunjukkan perkembangan riset terkini, tetapi ketentuan tersebut tidak berlaku secara universal.
Untuk topik teknologi yang berubah cepat, penelitian beberapa tahun terakhir mungkin sangat penting. Untuk teori fundamental, sejarah, atau konsep yang sudah mapan, sumber lama masih dapat menjadi rujukan utama. Apabila jurnal menetapkan persentase atau rentang tahun referensi tertentu, ikuti persyaratan tersebut.
Langkah memperbaiki kualitas referensi
- Prioritaskan penelitian primer yang secara langsung membahas pertanyaan penelitian.
- Gunakan artikel tinjauan ilmiah untuk memahami perkembangan bidang dan menemukan literatur yang relevan.
- Periksa identitas penulis, penerbit, tanggal publikasi, metode penelitian, serta kemungkinan koreksi atau pencabutan artikel.
- Pastikan sumber benar-benar mendukung klaim yang dicantumkan.
- Hindari memilih referensi hanya karena judulnya terlihat sesuai atau karena sumber tersebut mudah ditemukan.
Prinsip tersebut sejalan dengan pedoman etika penerbitan yang menekankan penggunaan referensi relevan dan terverifikasi serta pentingnya menjaga integritas literatur ilmiah.
Kualitas referensi lebih penting daripada sekadar jumlahnya. Sepuluh sumber yang relevan dan dapat diverifikasi bisa lebih bermanfaat daripada puluhan tautan yang tidak mendukung argumen penelitian.
6. Penulisan Urutan Penulis dan Tahun Terbit yang Tidak Sesuai Manual Style
Kesalahan keenam adalah tidak mengikuti aturan pengurutan referensi, penempatan tahun terbit, dan penulisan daftar penulis sesuai gaya sitasi yang digunakan. Kesalahan ini sering terjadi ketika penulis memindahkan referensi dari satu dokumen ke dokumen lain, menggunakan aplikasi pengelola referensi dengan pengaturan yang berbeda, atau menyunting daftar pustaka secara manual.
Walaupun terlihat sederhana, urutan referensi merupakan bagian penting dari sistem identifikasi sumber. APA dan IEEE menggunakan pendekatan yang berbeda, sehingga penulis perlu memahami ketentuan masing-masing sebelum menyusun daftar pustaka.
Perbedaan urutan referensi dalam APA dan IEEE
Dalam APA edisi ketujuh, daftar referensi umumnya disusun secara alfabetis berdasarkan nama keluarga penulis pertama. Jika penulis memiliki beberapa karya, urutannya ditentukan berdasarkan aturan APA yang relevan, termasuk tahun publikasi dan penanganan karya dengan penulis serta tahun yang sama.
Dalam IEEE, daftar referensi disusun berdasarkan urutan pertama kali sumber dikutip dalam teks, bukan berdasarkan alfabet nama penulis. Nomor referensi kemudian digunakan kembali setiap kali sumber yang sama dikutip.
Contoh sederhana:
- APA: Referensi Andi Pratama dapat muncul sebelum referensi Budi Santoso karena urutan alfabetis, terlepas dari paragraf tempat kedua sumber pertama kali dikutip.
- IEEE: Jika penelitian Budi Santoso dikutip lebih dahulu dalam teks, sumber tersebut memperoleh nomor
[1], meskipun nama penulisnya secara alfabetis berada setelah Andi Pratama.
Kesalahan terjadi ketika penulis menerapkan aturan pengurutan dari satu gaya pada gaya yang lain. Akibatnya, daftar referensi bisa tampak rapi secara visual, tetapi tidak mengikuti sistem yang ditetapkan jurnal.
Kesalahan tahun terbit dan urutan penulis
Selain urutan daftar pustaka, penulis perlu memastikan bahwa tahun yang dicantumkan sesuai dengan identitas publikasi. Sebuah artikel dapat memiliki tanggal publikasi daring lebih awal dan tahun penempatan dalam volume jurnal yang berbeda. Dalam situasi seperti ini, penulis harus memeriksa metadata resmi dan mengikuti aturan yang relevan untuk jenis publikasi tersebut.
Kesalahan juga terjadi ketika penulis menggunakan tahun dari laman yang membahas suatu artikel, bukan tahun publikasi artikel aslinya. Tahun pada referensi harus merepresentasikan sumber yang benar-benar dikutip, bukan tanggal ketika penulis menemukannya di internet.
Untuk urutan penulis, jangan menyusun ulang nama berdasarkan senioritas, jabatan akademik, atau abjad. Ikuti urutan nama yang tercantum pada publikasi asli. Perhatikan pula aturan jumlah penulis yang harus ditampilkan karena ketentuannya dapat berbeda antara APA, IEEE, dan kebijakan jurnal tertentu.
Cara memperbaikinya
- Tentukan gaya sitasi sebelum menyusun daftar pustaka. Jangan menunda pemilihan gaya sampai tahap akhir.
- Periksa urutan referensi sesuai sistem APA atau IEEE yang berlaku.
- Cocokkan tahun terbit dan daftar penulis dengan laman penerbit atau naskah asli.
- Perhatikan ketentuan khusus untuk karya dengan penulis yang sama, tahun yang sama, atau jumlah penulis yang banyak.
- Setelah mengubah satu referensi, periksa kembali sitasi yang terhubung dengannya.
Untuk APA, panduan resmi dan contoh referensi dapat ditemukan melalui APA Style — Reference Examples. Untuk IEEE, gunakan IEEE Reference Guide.
Jangan mengandalkan tampilan daftar pustaka saja untuk menentukan kebenarannya. Referensi yang terlihat konsisten belum tentu benar jika tahun, urutan penulis, atau identitas sumbernya tidak sesuai dengan publikasi asli.
Hal Penting Sebelum Mengirimkan Naskah ke Jurnal
Enam kesalahan di atas dapat dicegah dengan proses pemeriksaan yang sistematis. Penulis sebaiknya tidak hanya memeriksa ejaan dan tampilan daftar pustaka, tetapi juga menilai apakah setiap sumber benar-benar mendukung argumen yang dikemukakan.
Untuk membantu proses tersebut, berikut daftar pemeriksaan singkat yang dapat digunakan sebelum pengiriman naskah.
Checklist pemeriksaan referensi
- 0/6 selesai
- Kesesuaian sitasi dan daftar pustaka
- Setiap sitasi dapat ditemukan dalam daftar pustaka dan identitas sumbernya cocok.
- Konsistensi gaya referensi
- Seluruh sitasi mengikuti APA atau IEEE sesuai ketentuan jurnal.
- Validitas DOI dan URL
- Tautan mengarah ke publikasi yang benar dan metadata sesuai.
- Kapitalisasi dan nama penulis
- Judul, nama jurnal, inisial, dan urutan penulis sudah diperiksa.
- Kredibilitas sumber
- Referensi relevan, dapat diverifikasi, dan sesuai dengan klaim penelitian.
- Urutan referensi dan tahun terbit
- Daftar pustaka mengikuti aturan pengurutan dan metadata publikasi yang benar.
- Reset checklist
Memahami Perbedaan APA dan IEEE agar Naskah Lebih Siap Diterbitkan
Kesalahan format referensi bukan sekadar persoalan estetika. Referensi yang akurat membantu pembaca menelusuri bukti, memeriksa klaim, dan memahami kontribusi penelitian terhadap pengetahuan yang sudah ada. Karena itu, penulis perlu menempatkan pemeriksaan referensi sebagai bagian dari pengendalian mutu naskah, bukan hanya pekerjaan administratif menjelang tenggat pengiriman.
Enam kesalahan yang dibahas ketidaksesuaian sitasi dengan daftar pustaka, pencampuran gaya, DOI atau URL yang salah, kapitalisasi yang tidak tepat, penggunaan sumber yang tidak kredibel, serta kesalahan urutan penulis dan tahun memiliki karakteristik yang berbeda. Sebagian dapat diselesaikan melalui penyuntingan teknis, sedangkan sebagian lainnya membutuhkan pemeriksaan ulang terhadap sumber dan dasar argumentasi penelitian.
Penting pula untuk memahami bahwa tidak ada satu format referensi yang menjamin naskah diterima editor. Kesesuaian referensi harus berjalan bersama kualitas metodologi, kebaruan penelitian, ketepatan analisis, relevansi terhadap ruang lingkup jurnal, dan kepatuhan terhadap etika publikasi. Pedoman penerbitan juga menegaskan pentingnya literatur yang relevan dan terverifikasi serta penanganan serius terhadap persoalan integritas akademik.
Berikut tabel perbandingan yang merangkum keenam kesalahan, dampaknya, dan tindakan yang disarankan.
| No. | Kesalahan | Dampak yang mungkin muncul | Cara memperbaiki |
|---|---|---|---|
| 1 | Sitasi tidak cocok dengan daftar pustaka | Sumber sulit dilacak dan klaim sulit diverifikasi | Cocokkan seluruh sitasi dan entri referensi |
| 2 | Mencampurkan APA dan IEEE | Format tidak konsisten dan bertentangan dengan pedoman jurnal | Gunakan gaya yang ditentukan jurnal |
| 3 | DOI atau URL salah | Pembaca diarahkan ke sumber yang keliru atau tidak dapat diakses | Verifikasi tautan melalui penerbit atau resolver DOI |
| 4 | Kapitalisasi dan nama penulis keliru | Identitas bibliografi tidak akurat dan format tidak sesuai | Periksa metadata dan panduan gaya resmi |
| 5 | Sumber kuno atau tidak kredibel | Argumen dapat kehilangan dukungan ilmiah yang memadai | Prioritaskan sumber yang relevan, tepercaya, dan terverifikasi |
| 6 | Urutan penulis atau tahun tidak sesuai | Daftar referensi tidak mengikuti sistem yang diwajibkan | Periksa urutan, tahun, dan metadata publikasi asli |
Catatan: Dampak dalam tabel merupakan kemungkinan, bukan kepastian penolakan. Keputusan editorial bergantung pada kebijakan jurnal dan tingkat keseriusan masalah.
Sumber dan panduan yang dapat dijadikan acuan
- APA Style — In-Text Citations: Panduan sitasi dalam teks.
- APA Style — Reference Examples: Contoh penulisan referensi berdasarkan jenis sumber.
- Purdue Online Writing Lab — APA Reference List: Aturan dasar daftar referensi APA.
- IEEE Author Center — Reference Guide: Panduan referensi IEEE.
- Elsevier — Publishing Ethics: Kebijakan etika publikasi dan penggunaan sitasi.
- Committee on Publication Ethics (COPE): Principles of Transparency and Best Practice in Scholarly Publishing.
Langkah terbaik sebelum mengirimkan naskah adalah memeriksa pedoman jurnal tujuan terlebih dahulu, lalu melakukan audit referensi secara menyeluruh. Dengan memastikan setiap sumber akurat, relevan, dan ditulis menggunakan format yang konsisten, penulis dapat mengurangi kesalahan teknis yang sebenarnya dapat dicegah dan memberi editor dasar yang lebih baik untuk menilai kualitas penelitian.



