Bahasa Korea memiliki sistem kesantunan yang menarik sekaligus cukup kompleks. Ketika berbicara, seseorang tidak hanya perlu memperhatikan arti kata dan susunan kalimat, tetapi juga harus mempertimbangkan siapa lawan bicara, bagaimana hubungan sosial di antara mereka, serta dalam situasi apa percakapan berlangsung.
Cara berbicara kepada teman sebaya tentu dapat berbeda dengan cara berbicara kepada guru, dosen, atasan, pelanggan, atau orang yang baru dikenal. Perbedaan tersebut dapat terlihat dari pilihan kosakata, partikel, bentuk honorifik, hingga akhiran kalimat.
Karena itulah, mempelajari bahasa Korea tidak cukup hanya dengan menghafal kosakata dan tata bahasa. Pemahaman mengenai pragmatik dan kesantunan berbahasa Korea juga diperlukan agar seseorang mampu berkomunikasi secara tepat.
Hal ini semakin penting dalam ranah formal, seperti lingkungan sekolah, universitas, tempat kerja, wawancara, presentasi, pelayanan publik, dan pertemuan resmi.
Table of Contents
ToggleApa Itu Pragmatik dalam Bahasa Korea?
Pragmatik merupakan cabang linguistik yang mempelajari bagaimana bahasa digunakan dan dipahami berdasarkan konteks. Dalam pragmatik, makna sebuah tuturan tidak hanya dilihat berdasarkan arti kata secara harfiah.
Identitas penutur dan mitra tutur, hubungan sosial, tujuan komunikasi, serta situasi ketika percakapan berlangsung juga perlu diperhatikan.
Dalam bahasa Korea, konsep tersebut sangat penting karena hubungan antara penutur dan mitra tutur dapat memengaruhi bentuk bahasa yang dipilih.
Sebagai contoh, seseorang dapat menggunakan bentuk bahasa yang relatif santai ketika berbicara dengan teman dekat. Namun, ketika berbicara kepada guru atau atasan dalam situasi resmi, bentuk yang digunakan dapat berubah.
Oleh karena itu, sebuah kalimat bisa saja benar secara tata bahasa tetapi belum tentu tepat digunakan dalam setiap situasi komunikasi.
Mengapa Kesantunan Penting dalam Bahasa Korea?
Kesantunan dalam bahasa Korea berkaitan erat dengan hubungan sosial. Penutur perlu mempertimbangkan berbagai faktor sebelum menentukan bentuk bahasa yang sesuai.
Beberapa faktor tersebut meliputi:
- usia penutur dan mitra tutur;
- status atau kedudukan sosial;
- tingkat keakraban;
- lingkungan komunikasi;
- siapa yang sedang dibicarakan; dan
- tingkat formalitas situasi.
Dalam lingkungan profesional, misalnya, seorang pegawai dapat menggunakan bentuk tutur yang berbeda ketika berbicara kepada atasan dibandingkan ketika berbicara kepada rekan dekat.
Hal yang sama dapat terjadi di sekolah. Siswa biasanya mempertimbangkan bentuk bahasa yang lebih sopan ketika berbicara dengan guru dibandingkan ketika bercakap dengan teman.
Dengan demikian, kesantunan bukan sekadar tambahan dalam bahasa Korea, melainkan salah satu aspek penting yang membantu penutur membangun hubungan sosial melalui bahasa.
Mengenal Sistem Honorifik Bahasa Korea
Salah satu konsep utama dalam pembahasan kesantunan bahasa Korea adalah honorifik.
Secara sederhana, honorifik dapat dipahami sebagai unsur kebahasaan yang digunakan untuk menunjukkan penghormatan atau mengatur hubungan sosial antara orang-orang yang terlibat dalam komunikasi.
Honorifik dalam bahasa Korea dapat diwujudkan melalui beberapa unsur, seperti:
- pilihan kosakata;
- partikel;
- penanda pada predikat;
- istilah sapaan; dan
- akhiran kalimat.
Karena terdapat beberapa unsur sekaligus, penggunaan bahasa hormat tidak cukup dilakukan hanya dengan menambahkan satu kata sopan.
Penutur harus memahami siapa yang perlu dihormati serta bagaimana posisi orang tersebut dalam percakapan.
Penghormatan terhadap Subjek
Salah satu bagian penting dalam sistem honorifik Korea adalah penghormatan terhadap subjek atau subject honorification.
Penghormatan ini digunakan ketika orang yang menjadi subjek dalam kalimat perlu diberikan penghormatan.
Salah satu penanda yang penting dipahami adalah:
-(으)시-
Penanda tersebut dapat muncul pada predikat untuk menunjukkan penghormatan terhadap referen subjek.
Selain itu, terdapat partikel:
께서 (kkeseo)
yang dikenal sebagai bentuk kehormatan dari partikel subjek dalam konteks tertentu.
Perhatikan contoh berikut:
선생님께서 오십니다.
Seonsaengnimkkeseo osimnida.
Secara sederhana, kalimat tersebut dapat diterjemahkan sebagai:
“Guru datang.”
Namun, bentuk bahasa Korea tersebut mengandung unsur penghormatan kepada guru.
Pada contoh itu, 께서 berfungsi sebagai partikel subjek kehormatan. Sementara itu, predikat 오십니다 mengandung unsur honorifik -시- dan menggunakan akhiran formal.
Hal ini memperlihatkan bahwa penghormatan dalam bahasa Korea dapat diwujudkan melalui beberapa unsur dalam satu kalimat.
Penghormatan kepada Mitra Tutur
Selain subjek, penutur juga harus memperhatikan orang yang menjadi lawan bicara atau addressee.
Penghormatan terhadap mitra tutur dapat terlihat jelas melalui pemilihan akhiran kalimat.
Dua bentuk yang cukup sering dipelajari adalah:
-습니다 / -ㅂ니다
dan
-아요 / -어요 / -해요
Keduanya dapat digunakan dalam komunikasi sopan, tetapi nuansa dan tingkat formalitasnya berbeda.
Bentuk -습니다/-ㅂ니다 umumnya berkaitan dengan situasi yang lebih formal atau membutuhkan sikap deferensial. Sementara itu, bentuk dengan -요 sangat umum digunakan dalam percakapan sehari-hari yang tetap menjaga kesopanan.
Karena itu, pembelajar sebaiknya tidak hanya bertanya, “Apakah kalimat ini sopan?” tetapi juga mempertimbangkan, “Apakah tingkat kesopanannya sesuai dengan situasi?”
Penghormatan terhadap Objek atau Penerima
Penghormatan juga dapat berkaitan dengan seseorang yang menerima tindakan.
Salah satu bentuk yang perlu dikenali adalah:
께 (kke)
Partikel ini dapat digunakan untuk menunjukkan penerima atau tujuan yang dihormati.
Contoh:
선생님께 질문을 드렸습니다.
Seonsaengnimkke jilmun-eul deuryeotseumnida.
Artinya kurang lebih:
“Saya mengajukan pertanyaan kepada guru.”
Pada contoh tersebut, 께 digunakan kepada orang yang dihormati. Selain itu, terdapat bentuk 드리다 (deurida) yang lazim digunakan ketika tindakan memberi atau melakukan sesuatu diarahkan kepada orang yang dihormati.
Contoh ini memperlihatkan bahwa pilihan partikel dan verba dapat bekerja bersama untuk menciptakan kesantunan.
Mengenal Tingkat Tutur dalam Bahasa Korea
Tingkat tutur merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari komunikasi bahasa Korea.
Dalam pembelajaran dasar hingga menengah, dua gaya yang sangat penting dikenali adalah 합니다체 dan 해요체.
합니다체
Gaya ini memiliki karakter formal dan deferensial.
Beberapa akhiran yang sering ditemukan antara lain:
-ㅂ니다 / -습니다
untuk pernyataan dan:
-ㅂ니까? / -습니까?
untuk pertanyaan.
Contoh:
감사합니다.
Gamsahamnida.
Terima kasih.
Contoh pertanyaan:
어디에 가십니까?
Eodie gasimnikka?
Anda pergi ke mana?
Gaya ini dapat digunakan dalam berbagai konteks formal, seperti presentasi, pelayanan resmi, wawancara, atau situasi profesional tertentu.
해요체
Gaya 해요체 banyak digunakan dalam percakapan sopan sehari-hari.
Contohnya:
감사해요.
Gamsahaeyo.
atau:
어디에 가세요?
Eodie gaseyo?
Bentuk ini tetap sopan, tetapi umumnya memiliki nuansa percakapan yang berbeda dibandingkan gaya 합니다체.
Pemilihan antara keduanya perlu disesuaikan dengan situasi dan hubungan antarpenutur.
Pentingnya Memahami Konteks dalam Berbahasa Korea
Memahami struktur tata bahasa saja belum cukup untuk menggunakan honorifik secara tepat. Pembelajar juga harus mampu membaca konteks sosial sebuah percakapan.
Misalnya, suatu ungkapan dapat terasa tepat ketika digunakan bersama teman, tetapi terlalu santai apabila digunakan dalam wawancara atau ketika berbicara dengan guru.
Karena itu, latihan bahasa Korea sebaiknya tidak hanya berfokus pada arti kosakata dan pola kalimat. Siswa juga perlu berlatih mengenali maksud tuturan, situasi komunikasi, serta hubungan antara penutur dan lawan bicara.
Bagi siswa SMA/SMK yang ingin meningkatkan pemahaman tersebut, latihan melalui soal TKA Bahasa Korea SMA/SMK 2026 dapat digunakan sebagai salah satu sarana untuk melatih kemampuan memahami bahasa Korea dalam berbagai konteks.
Dengan cara tersebut, pembelajar tidak hanya memahami bagaimana sebuah kalimat dibentuk, tetapi juga dapat belajar mempertimbangkan kapan suatu bentuk bahasa sebaiknya digunakan.
Faktor yang Memengaruhi Pemilihan Bahasa Sopan
Setelah memahami pentingnya konteks, terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan ketika menentukan tingkat kesantunan.
1. Usia
Usia dapat memengaruhi hubungan sosial dan pilihan bentuk tutur. Namun, usia bukan satu-satunya faktor yang menentukan penggunaan honorifik.
2. Status dan Kedudukan
Status seseorang dalam lingkungan tertentu juga dapat berpengaruh.
Dalam konteks sekolah terdapat hubungan siswa dan guru, sedangkan di lingkungan profesional dapat terdapat hubungan pegawai, manajer, pimpinan, atau pelanggan.
3. Tingkat Keakraban
Dua orang yang sudah lama berteman mungkin menggunakan gaya tutur berbeda dibandingkan dua orang yang baru pertama kali bertemu.
4. Situasi Komunikasi
Situasi formal biasanya membutuhkan pilihan bahasa yang berbeda dari percakapan santai.
Seseorang dapat menggunakan gaya berbeda ketika melakukan presentasi dibandingkan ketika berbincang santai setelah acara selesai.
5. Orang yang Sedang Dibicarakan
Dalam bahasa Korea, bukan hanya lawan bicara yang perlu diperhatikan. Orang yang menjadi subjek pembicaraan juga dapat memengaruhi bentuk honorifik.
Partikel dan Penanda Kehormatan yang Perlu Dipahami
Untuk mempermudah pembelajaran, beberapa bentuk berikut dapat menjadi dasar dalam memahami sistem kesantunan bahasa Korea.
| Bentuk | Fungsi Umum |
|---|---|
| 께서 | Partikel subjek kehormatan |
| 께 | Penanda penerima/tujuan yang dihormati |
| -(으)시- | Penanda honorifik pada predikat |
| -습니다/-ㅂ니다 | Akhiran formal/deferensial |
| -아요/-어요 dan -요 | Bentuk sopan dalam percakapan |
Tabel tersebut dapat membantu pembelajar mengenali beberapa penanda dasar. Namun, penggunaannya tetap harus dipelajari bersama konteks.
Satu bentuk tidak selalu dapat digunakan secara otomatis dalam semua situasi.
Kesantunan Bahasa Korea dalam Forum Resmi
Forum resmi merupakan salah satu konteks ketika pemahaman pragmatik sangat diperlukan.
Contohnya antara lain:
- presentasi akademik;
- rapat organisasi;
- wawancara;
- komunikasi di tempat kerja;
- pelayanan pelanggan;
- percakapan mahasiswa dan dosen; serta
- acara institusional.
Dalam situasi tersebut, pemilihan tingkat tutur dapat memberikan kesan mengenai sikap penutur terhadap lawan bicara.
Bayangkan seorang mahasiswa sedang menyampaikan hasil penelitian kepada dosen. Pilihan bahasanya tentu perlu disesuaikan dengan situasi akademik tersebut.
Begitu juga seorang pegawai yang sedang melakukan presentasi di hadapan pimpinan perusahaan. Gaya tutur yang digunakan biasanya berbeda dari percakapan santai bersama teman dekat.
Oleh sebab itu, kemampuan menggunakan bahasa Korea dalam ranah formal membutuhkan pemahaman tata bahasa sekaligus kemampuan membaca situasi sosial.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Pembelajar
Kesalahan pragmatik dapat terjadi meskipun struktur kalimat yang digunakan sebenarnya benar.
Menggunakan Bahasa Terlalu Informal
Bentuk yang biasa digunakan bersama teman dekat belum tentu tepat digunakan kepada guru, atasan, atau orang yang baru dikenal.
Menganggap Semua Bentuk -요 Bersifat Formal
Akhiran -요 memang berhubungan dengan kesopanan dalam banyak konteks, tetapi tidak berarti semua bentuk tersebut memiliki tingkat formalitas yang sama dengan -습니다/-ㅂ니다.
Hanya Memperhatikan Lawan Bicara
Pembelajar terkadang hanya memikirkan siapa yang sedang diajak berbicara.
Padahal, orang yang menjadi subjek atau pihak yang dibicarakan juga dapat memengaruhi penggunaan honorifik.
Menerjemahkan Langsung dari Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia dan bahasa Korea memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan hubungan sosial.
Karena itu, menerjemahkan kalimat secara kata demi kata dapat menghasilkan bentuk yang kurang natural atau kurang sesuai konteks.
Cara Melatih Kemampuan Pragmatik Bahasa Korea
Kemampuan pragmatik dapat ditingkatkan melalui latihan yang berorientasi pada situasi nyata.
Pelajari Kalimat Bersama Konteksnya
Ketika menemukan kalimat baru, jangan hanya menghafalkan artinya.
Perhatikan siapa yang mengucapkannya, kepada siapa, dan dalam situasi apa.
Bandingkan Situasi Formal dan Informal
Cobalah membuat satu maksud komunikasi untuk beberapa lawan bicara berbeda.
Misalnya, buat ungkapan untuk:
- teman dekat;
- guru;
- orang yang baru dikenal; dan
- atasan.
Kemudian bandingkan perubahan tingkat tutur dan pilihan katanya.
Pelajari Honorifik sebagai Sistem
Jangan mempelajari 께서, 께, -(으)시-, atau akhiran kalimat secara terpisah tanpa memahami hubungannya.
Perhatikan bagaimana unsur-unsur tersebut dapat bekerja bersama dalam sebuah kalimat.
Gunakan Materi Bahasa yang Autentik
Percakapan, wawancara, pidato, atau materi pembelajaran yang menggunakan bahasa Korea alami dapat membantu siswa melihat bagaimana penutur memilih tingkat tutur berdasarkan situasi.
Namun, konteks setiap contoh tetap harus diperhatikan agar pembelajar tidak sekadar meniru bentuk tertentu.
Kesantunan Bahasa Korea Bersifat Dinamis
Hal lain yang menarik adalah penggunaan tingkat tutur bahasa Korea tidak selalu bersifat kaku.
Dalam percakapan nyata, penutur dapat menyesuaikan gaya bahasa berdasarkan perubahan suasana, tingkat kedekatan, tujuan komunikasi, atau sikap terhadap lawan bicara.
Fenomena perubahan tingkat tutur menunjukkan bahwa kesantunan tidak cukup dipahami sebagai daftar aturan yang harus dihafalkan.
Penutur perlu memiliki kemampuan pragmatik agar dapat menentukan bentuk yang sesuai.
Hal ini juga menjelaskan mengapa pembelajar yang menguasai banyak kosakata belum tentu otomatis mampu berkomunikasi secara natural.
Mereka tetap perlu memahami hubungan sosial yang berada di balik penggunaan bahasa tersebut.
Pentingnya Pragmatik bagi Pembelajar Bahasa Korea
Pragmatik membantu pembelajar bergerak dari sekadar “mampu membuat kalimat” menjadi “mampu menggunakan kalimat secara tepat”.
Dalam pembelajaran bahasa Korea, siswa idealnya mengembangkan beberapa kemampuan sekaligus, yaitu:
- memahami kosakata;
- menguasai struktur tata bahasa;
- mengenali sistem honorifik;
- membedakan tingkat tutur;
- memahami konteks sosial; dan
- memilih ungkapan sesuai situasi.
Dengan kombinasi tersebut, kemampuan berbahasa menjadi lebih utuh.
Pembelajar tidak hanya mengetahui arti sebuah kalimat, tetapi juga memahami bagaimana kalimat tersebut dapat diterima oleh lawan bicara.
Pragmatik dan kesantunan merupakan bagian penting dalam penggunaan bahasa Korea, terutama dalam komunikasi formal. Penutur perlu memperhatikan bukan hanya struktur kalimat, tetapi juga hubungan sosial, status, usia, tingkat keakraban, dan situasi komunikasi.
Sistem honorifik bahasa Korea dapat diwujudkan melalui berbagai unsur, termasuk partikel 께서 dan 께, penanda honorifik -(으)시-, pilihan kosakata, serta akhiran seperti -습니다/-ㅂ니다 dan bentuk sopan dengan -요.
Dalam ranah formal, pemilihan unsur tersebut perlu disesuaikan dengan konteks. Bahasa yang tepat untuk teman dekat belum tentu tepat digunakan kepada guru, dosen, atasan, pelanggan, atau orang yang baru dikenal.
Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Korea sebaiknya tidak berhenti pada hafalan kosakata dan pola tata bahasa. Pembelajar juga perlu mengembangkan kemampuan pragmatik agar dapat memahami siapa yang berbicara, kepada siapa tuturan disampaikan, dan dalam situasi seperti apa bahasa digunakan.
Dengan pemahaman tersebut, pembelajar dapat menggunakan bahasa Korea dengan lebih tepat, sopan, natural, dan sesuai dengan kebutuhan komunikasi formal maupun kehidupan sehari-hari.



